Share It

Senin, 13 Agustus 2012

Makalah Rangkaian Sistem Rem ABS Toyota Camry Tipe 2.4V A/T

TEKNOLOGI OTOTRONIC
“Diagnosa Kerusakan dan Keamanan Rangkaian Sistem Rem ABS Toyota Camry Tipe 2.4V A/T

 









Oleh:

RIDONA SILABAN
16573 / 2010







PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Diagnosa Kerusakan dan Keamanan Rangkaian Sistem Rem ABS Toyota Camry Tipe 2.4V A/T” yang merupakan salah satu syarat perkuliahan pada mata kuliah Teknologi Ototronik di Universitas Negeri Padang.
Penulis menyadari betul bahwa isi makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai penyempurnaan makalah ini, sehingga dikemudian hari makalah ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membaca, seiring dengan itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selesainya makalah ini.




                                                                       
Padang, 5 Mei 2012






Penulis



DAFTAR ISI


Halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................   i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I      PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang.................................................................................    1
B.       Identifikasi Masalah.........................................................................   2 
C.       Pembatasan Masalah........................................................................    2 
D.      Perumusan Masalah..........................................................................    2
E.       Tujuan Penulisan..............................................................................    2
F.        Kegunaan Penulisan.........................................................................    3
BAB II KAJIAN TEORI
Landasan Teori.................................................................................................    4
A.       Pengertian Sistem Rem ABS...........................................................    4
B.       Komponen Utama Sistem ABS.......................................................    6
C.       Gambar Rangkaian dan Blok Diagram Sistem ABS.......................    8
D.       Prinsip Kerja ABS............................................................................    9
E.        Siklus Kontrol ABS......................................................................... 11
F.        Jenis-jenis ABS................................................................................ 14
BAB III PEMBAHASAN
Analisa Kerusakan Pada Sistem ABS............................................................. 17
A.       Kerusakan Pada Sistem ABS........................................................... 17
B.       Keamanan Sistem ABS.................................................................... 18
BAB IV PENUTUP
A.       Kesimpulan...................................................................................... 20
B.       Saran................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 21







PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Perkembangan negara industri dapat maju pesat karena dipengaruhi oleh adanya hasil teknologi yang tinggi dimana komponen-komponen mesin memiliki kualitas yang baik dan memenuhi standar, baik dari segi komponen maupun umur penggunaan yang tahan lama. Mobil adalah satu kesatuan terdiri dari berbagai komponen yang menyatu, disebut dengan kendaraan. Masing-masing adalah mesin, chasis dan pemindah daya, listrik  dan aksesoris. Penemuan alat-alat modern dan otomatis membawa manusia ketingkat kenyamanan yang lebih tinggi. Dan perkembangan teknologi tersebut juga berpengaruh dalam bidang otomotif, sebagai contoh kendaraan model dahulu dalam pengoperasiannya masih menggunakan manual, namun pada kendaraan model sekarang dalam pengoperasiannya sudah banyak yang menggunakan otomatis misalnya: sistem power window, sistem rem Antilock Brake System (ABS) dan juga pada sistem pemindah daya (power train).
Dewasa ini perkembangan  teknologi system keamanan pada mobil berkembang pesat, terutama dalam system pengereman. ABS atau Antilock Brake System merupakan salah satu contoh teknologi terbaru tersebut. Sistem ini betujuan untuk mencegah roda mengalami penguncian. Karena berdasarkan penelitian, roda yang mengalami penguncian pada saat pengereman akan menyebabkan resiko kecelakaan yang lebih besar. Roda yang mengalami penguncian akan menyebabkan mobil tergelincir terutama pada jalan yang basah atau pada jalan bersalju. Oleh karena itu Antilock Braking System merupakan system keamanan yang penting pada mobil, akan sangat berbahaya jika system pengereman ini mengalami kerusakan.
Seiring lamanya pemakaian ABS pada kendaraan tentunya akan mengakibatkan beberapa masalah pada system ABS ini, sehingga makalah ini dibuat untuk mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang timbul pada komponen-komponen ini akan memudahkan dalam memperbaiki sekaligus mempercepat penanganan kasus bila terjadi permasalahan.


B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat diidentifikasi beberapa masalah, yaitu:
a.    Rangkaian system ABS tidak berfungsi dengan baik
b.   Rem ABS terkadang berfungsi terkadang tidak berfungsi
c.    Kerugian effisiensi pompa
d.   Kebocoran fluida
e.    Gelembung udara dalam minyak rem
f.    Kerugian efisiensi brake pad
g.   Kendaraan tidak mengerem saat dilakukan pengereman
C.    Batasan Masalah
Karena banyaknya masalah yang muncul dalam identifikasi masalah diatas maka untuk memfokuskan dan pengkajian secara lebih mendalam, penulis akan membatasi pada poin-poin berikut:
a.    Kerugian effisiensi pompa
b.   Kebocoran fluida
c.    Gelembung udara dalam minyak rem
d.   Kerugian efisiensi brake pad
e.    Kerusakan dan Keamanan Rangkaian
a.    Analisa komponen
b.   SIKLUS KONTROL ABS
c.    Perbaikan system ABS
d.   Perawatan system ABS
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan adalah untuk  menjelaskan empat hal berikut:
a.    Mengetahui komponen-komponen pada sistem ABS
b.   Mengetahui siklus pada saat system ABS bekerja
c.    Untuk mengetahui perbaikan kerusakan system ABS
d.   Untuk mengetahui cara perawatan system ABS
a.    Untuk mengetahui system ABS
b.   Untuk mengetahui Cara kerja system ABS
c.    Untuk mengetahui kontruksi dan rangkaian system ABS
d.   Untuk mengetahui komponen-komponen system ABS
e.    Untuk mengetahui tipe-tipe system ABS
f.    Untuk Mengetahui Persamaan supaya dapat mensimulasikan fungsi dari ABS agar dapat digunakan dan lebih aman.






















KAJIAN TEORI
Landasan Teori

A.    Pengertian Sistem Rem ABS
Sistem rem anti terkunci atau anti-lock braking sistem (ABS) merupakan sistem pengereman pada mobil agar tidak terjadi penguncian roda ketika terjadi pengereman mendadak/keras.ABS merupakan sistem pengereman yang didesain untuk menghindari terjadinya selip (skidding) karena roda terkunci (locked) pada saat pengereman yang mana hal ini akan dapat menimbulkan bahaya karena roda yang selip akan menyebabkan kendaraan tidak dapat dikendalikan. Roda yang selip juga akan dapat memperpanjang jarak pengereman, karena koefisien gesek ban yang selip lebih kecil daripada ban yang menggelinding.
Sistem ini bekerja apabila pada mobil terjadi pengereman keras sehingga salah sebagian atau semua roda berhenti sementara mobil masih melaju, membuat kendaraan tidak terkendali sama sekali. Ketika sensornya mendeteksi ada roda mengunci, ia akan memerintahkan piston rem untuk mengendurkan tekanan, lalu mengeraskannya kembali begitu roda berputar. Proses itu berlangsung sangat cepat, bisa mencapai 15 kali/detik. Efeknya adalah mobil tetap dapat dikendalikan dan jarak pengereman makin efektif.
Jika permukaan jalan saat pengereman tidak rata, roda2 yang mengalami selip akan mudah terkunci dan mobil akan berputar putar . namun dengan sistem ABS mobil akan tetap stabil sampai mobil tersebut berhenti.








Perbandingan pengereman kendaraan yang tidak menggunakan rem ABS dan yang menggunakan rem ABS

Sejarah singkat mengenai ABS
1.      1952 ABS untuk kapal terbang oleh Dunlop
2.      1969 Rear-wheel-only ABS oleh Ford & Kelsey Hayes
3.      1971 Four-wheel ABS oleh Chrysler & Bendix
4.      1978 Produksi massal Bosch ABS Systems dengan Mercedes Benz
5.      1984 Sistem terpadu ABS oleh ITT-Teves
6.      Sejak awal tahun 1990 ABS mulai ditawarkan ke mobil ukuran kecil dan menengah karena biaya sudah murah dan untuk menambah efisiensi

Anti-lock Brake System dirancang untuk mencegah terjadinya penguncian roda (wheel lockup) saat pengeman mendadak di segala medan jalan. Hasil saat pengeraman adalah:
1.      Mobil tetap stabil
2.      Arah kemudi stabil (Vehicle Stability)
3.      Mengerem lebih cepat (jarak pengereman lebih dekat, kecuali jalan tanah, bersalju)
4.      Penguasaan kontrol kendaraan menjadi maksimal (tinggat kestabilan)


B.     Komponen Utama Sistem ABS
Sistem ABS merupakan kombinasi dari sistem elektronik dan hidrolik untuk mengatur pengereman masing-masing roda agar menghindari roda terkunci. Komponen utama ABS secara umum adalah:
1.      Speed sensor
Masing roda, informasi ini diperlukan agar sistem dapat mengetahui roda mana yang sedang akan terkunci. Speed sensor ini dapat terpasang terpasang pada setiap roda, atau ada juga yang dipasang pada diferensial.masing-masing roda agar menghindari roda terkunci.







Speed Sensor
2.      Valve
Terdapat sebuah valve pada open masing-masing rem yang dikontrol oleh ABS, valve ini memiliki tiga posisi:
1)      Valve terbuka (open), tekanan dari master cylinder diteruskan langsung ke rem.
2)      Valve menutup jalur dan mengisolasi rem roda yang bersangkutan sehingga mencegah tekanan terus meningkat pada saat rem ditekan lebih kuat.
3)      Valve melepaskan (release) tekanan pada rem.







3.      Pump
Valve melepaskan tekanan pada rem, oleh karena itu maka harus ada alat yang mengembalikan tekanan pada rem, dan inilah fungsi dari pompa tersebut.

4.      ABS Controller / Computer
ABS terdiri dari wheel speed sensor yang berfungsi untuk mendeteksi kecenderungan suatu roda mengalami penguncian, HCU (Hydraulic Control Unit) mensuplai tekanan rem ke setiap roda berdasarkan output signal dari ABSCM (control module).
Dari sinyal wheel speed sensor, ABSCM akan menghitung dan memperkirakan akselerasi, deselerasi dan slip rasio, pengaturan solenoid valve dan return pump, gunanya adalah adalah untuk mencegah terjadinya wheel lock-up. ABSCM dapat mengatur sistem monitoring pada sirkuit dan mematikan dirinya sendiri apabila sistem mengalami kegagalan. Pengemudi dapat mengetahui adanya kegagalan sistem pada ABS apabila lampu peringatan ABS menyala.

                              




C.    Gambar Rangkaian dan Blok Diagram Sistem ABS













Rangkaian Komponen ABS












Blok Diagram ABS ECU

D.    Prinsip Kerja ABS
  Salah satu algoritma cara kerja dari sistem ABS secara sederhana adalah dengan memonitor speed sensor pada roda sepanjang waktu untuk mencari terjadinya perlambatan (deceleration) yang tidak wajar. Tepat sebelum terkunci, roda akan mengalami perlambatan yang sangat cepat. Apabila dibiarkan, roda akan berhenti jauh lebih cepat dari mobil, misalnya mobil yang bergerak dengan kecepatan 60 mil per jam akan berhenti dalam 5 detik, namun roda yang terkunci akan berhenti berputar dalam waktu kurang dari 1 detik. ABS Controller kemudian membaca perubahan yang “tidak mungkin” ini dan mengurangi tekanan (release) pada rem tersebut sampai kembali terjadi akselerasi dan kemudian meningkatkan tekanan(pumpi ng) lagi sehingga menimbulkan deselerasi lagi. Sistem ABS dapat bekerja dengan sangat cepat dalam melakukan siklus tersebut, sebelum roda mengalami perubahan kecepatan yang signifikan. Hal ini menyebabkan roda melambat dengan perlambatan yang sama dengan mobil, dengan rem menjaga roda sangat dekat dengan titik dimana roda akan mulai terkunci (lock up). Kondisi ini menghasilkan daya pengereman yang maksimum pada sistem, begitu juga hal ini dapat menjaga roda terus berputar sehingga tetap dapat dikendalikan.
Kesimpulannya, prinsip utama dari sistem ABS adalah mengontrol kecepatan putaran roda dengan cara mengontrol tekanan pada jalur sistem pengereman. Dengan demikian dicapai kondisi dimana roda sedang tepat sebelum terkunci, yang mana akan menghasilkan pengereman yang paling efektif.
Ditinjau dari sistem kontrolnya, sistem kontrol traksi merupakan sistem yang mampu mempertahankan ratio slip diantara ban dan permukaan jalan dengan cara mengontrol peralatan-peralatan guna memberikan perlawanan percepatan terhadap perubahan kondisi permukaan jalan. Peralatan itu tersebut, yaitu:
1.      Kontrol Torsi Engine, berfungsi mempertahankan kondisi steady state plant.
2.      Kontrol Torsi Pengereman, mencegah keberadaan torsi dengan memberikan gaya gesek yang berbeda di antara kedua roda penggerak.
Sistem kontrol traksi direncanakan untuk mencegah roda melintir dengan gaya akseleratif yang tinggi, dan pemasarannya telah mulai dilakukan sejak tahun 1987. Kraf (1990), Rittmanssberger (1998), Kiyotaka (1991), menyatakan bahwa antiskid controller mengatur roda slip dengan torsi pengereman, biasanya pada keempat rodanya. W Shields Neeley (1994), menyatakan bahwa peren canaan kontrol slip dengan NeuFuz dapat dilakukan untuk sistem kontrol traksi dan sistem ABS.
Armin Czinczel (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kebutuhan akan sistem kontrol traksi untuk kendaraan FWD merupakan optimisasi traksi. Oleh karena itu sistem torsi pengereman sangat diperlukan. Tatsuhiko Abe (1996) melakukan penelitian sistem kontrol traksi dengan HTCS (Hybrid Traction Control System) yang menawarkan kinerja dalam hal memperbaiki TCS dengan EIB (Engine Inertia Brake).
Komponen-Komponen Kontrol Traksi tersebut meliputi :
1.      Wheel Speed sensor, sensor yang memberikan informasi kepada ABS untuk ditindak lanjuti.
2.      ECU (Electronic Control Unit) Input amplifier IC menerima sinyal dari wheel speed sensor,
3.      sinyal frekwensi tersebut memberi perintah tentang kecepatan roda penggerak. Microcontrollernya akan memproses sinyal-sinyal percepatan dan kecepatan roda penggerak. Datadata ini akhirnya akan menyiapkan basis perhitungan dalam menentukan nilai akhir yang dibutuhkan untuk kendali slip.
4.      Hydraulic Unit
5.      Electronic throttle control actuator
6.      Simplified throttle control actuator
7.      Fuel injection dan ignition control (Pengurangan tekanan pompa mesin secara perlahan-lahan).


E.     Siklus Kontrol ABS
1.      Pengaturan Rem Pada Permukaan Yang Tidak Rata (Koefisien Gaya Rem)
Saat awal pengeman, tekanan rem di dalam wheel brake cylinder dan masing-masing akan naik turun. Di akhir tahap 1, deselerasi roda melebihi ambang batas (-a), akibatnya solenoid valve akan memindahkan posisi “pressure hold” sesuai dengan kebutuhannya. Tekanan rem tidak harus berkurang karena ambang batas (-a) dapat dilebihkan ke dalam range stabil dari koefisiennya, atau dari kurva brake slip. Pada saat bersamaan kecepan referensi dikurangi, besaran untuk slip switching ambang batas •1 di dapat dari kecepatan referensi.
Kecepatan roda turun dibawah ambang batas •1 di akhir tahap 2. Kemudian solenoid valve pindah ke posisi “pressure drop” , sehingga tekanan rem bisa dikurangi sampai deselerasi roda melebihi ambang batas (-a). Kecepatan turun lagi dibawah ambang batas (-a) di akhir tahap 3 dan tekanan bertahan mengikuti panjangnya. Pada saat tersebut akselerasi roda bertambah mengikuti bertambahnya ambang batas (+a). Tekanan tetap konstan. Dan diakhir tahap 4, akselerasi melebihi kecepatan ambang batas (+A) tertinggi, tekanan rem kemudian bertambah mengikuti naiknya ambang batas (+A).
Di tahap 6, tekanan ren dipertahankan kembali agar tetap konstan karena ambang batas (+a) dilebihkan. Di akhir tahap ini, akselerasi sekeliling roda turun dibawah ambang batas (+a). ini menandakan bahwa roda sudah memasuki batasan gaya rem yang stabil (coefficient/brake slip curve) dan agak ringan. Tekanan rem sekarang mulai masuk tahapan 7 sampai deselerasi roda melebihi ambang batas (- a) (akhir tahap 7). Pada saat tersebut, tekanan rem langsung diturunkan tanpa melalui sinyal 1.
2.      Kontrol Rem di Jalan Licin (Koefisien Gaya Rem Rendah)
Pada permukaan jalan licin seperti ini, dengan sedikit injakan saja pada brake pedal, bisa cukup untuk membuat roda terkunci sehingga memungkinkan terjadi selip pada ban. Logic circuit di dalam ECU dapat mengenali kondisi aspal suatu jalan kemudian menyesuaikannya karakter ABS.
Pada tahap 1 dan 2, pengaturan rem dilakukan dengan cara yang sama berdasarkan koefisien gaya pengereman tinggi. Tahap 3 dimulai dengan penahanan tekanan dalam waktu singkat, kemudian kecepatan roda diperbandingkan dengan slip switching ambang batas •1. Selama kecepan roda kurang dari angka ambang batas slip switching, tekanan rem akan diturunkan sebentar, dalam waktu yang tetap, dan ini diikuti oleh tahap selanjutnya yaitu penahanan tekanan singkat. Kemudian dibuat pembaharuan perbandingan antara kecepatan roda dan switching ambang batas •1, sehingga tekanan bisa turun dalam waktu singkat.
Roda kemudian berputar kembali mengikuti tahapan tekanannya dan roda-roda tersebut berputar melebihi ambang batas (+a). selanjutnya, tekanan tertahan sampai akselerasinya dibawah ambang batas (+a) lagi (akhir tahap 4). Ini di ikuti oleh tahap 5 melalui step-type yang terbentuk di dalam tekanan yang sudah dikenalnya dari bagian sebelumnya sampai siklus kontrol baru bias dikenali oleh pressure reduction tahap 6.
Pada siklus yang telah dijelaskan sebelumnya, controller logic dapat mengenali kedua tahapan penurunan tekanan sebelumnya dimana diperlukan untuk akselerasi roda kembali setelah penurunan tekanan yang dikenali oleh sinyal (-a). Roda berputar dengan batasan selip tinggi untuk waktu yang relatif lama, sehingga tidak aman untuk kestabilan mobil dan penguasaan kemudi. Untuk mengatasi kedua masalah ini, diperlukan perbandingan secara terus-menerus antara kecepatan roda dan slip switching ambang batas •1 ini dan juga siklus control berikutnya. Sebagai akibatnya, di tahan 6 tekanan rem secara tetap akan dikurangi sampai akselerasi roda melebihi ambang batas (+a) tahap 7. Berkat penurunanan tekanan secara tetap, roda berputar dengan selip tinggi dalam waktu singkat, sehingga bisa meningkatkan kestabilan kendaraan dan kontrol kemudi dibanding dengan siklus pertama.

F.     Jenis-jenis ABS

1.      4-SENSOR 4-CHANNEL
Jenis ABAS ini mempunyai empat wheel sensor dan 4 hydraulic control channel dan masingmasing mengontrol secara tersendiri. Sistem ini mempunyai tingkat keamanan dan jarak pemberhentian yang lebih pendek di berbagai macam kondisi jalan. Namun apabila permukaan jalannya licin, besar gaya rem antara kanan dan kiri yang tidak rata akan mengakibatkan terjadi gerakan Yawing pada bodi kendaraan sehingga bisa mengurangi kestabilan. Karena itulah, kebanyakan mobil yang dilengkapi dengan tipe 4 channel ABS memasukkan satu select low logic pada roda belakang agar mobil tetap stabil, di berbagai macam kondisi jalan.












2.      4-SENSOR 3-CHANNEL
Dipakai untuk mobil FF (Front engine Front driving), kebanyakan berat kendaraan terpusat di roda depan dan berat titik tengah kendaraan saat direm juga berpindah ke depan hampir 70%, gaya pengereman ini dikontol oleh roda depan. Artinya adalah kebanyakan tenaga pengereman dibangkitkan oleh roda depan, sehingga agar ABS bisa efektif, maka diperlukan pengaturan tersendiri (independent control) pada roda depan. Namun demikian, roda belakang yang gaya pengeremannya lebih sedikit, juga sangat penting untuk memastikan kendaraan aman saat dilakukan pengereman.
Karena itulah apabila saat ABS roda belakang bekerja di permukaan jalan yang licin, maka independent control pada roda belakang mengatur agar gaya pengereman roda2 belakang tidak merata sehingga mobil mengalami yawing. Untuk menhindari gerakan yawing ini dan untuk menjaga agar mobil tetap aman saat ABS bekerja di berbagai kondisi jalan, maka tekanan rem roda belakang diatur berdasarkan kecenderungan roda mana yang mengalami lock-up. Konsep pengaturan ini dikenal dengan ‘Select-low control’.

3.      3-SENSOR 3-CHANNEL
Mobil yang dilengkapi dengan H-bake line system mempunyai sistem kontrol ABS jenis ini. 2 channel untuk roda depan dan satunya lagi untuk roda belakang. Roda belakang dikontrol bersama dengan select low control logic. Untuk X-brake line system, diperlukan 2 channels (2 brake port di dalam unit ABS) untuk mengatur roda belakang dikarenakan masing-masing roda belakang mempunyai jalur rem yang berbeda.







4.      1-SENSOR 1-CHANNEL
Dipakai Untuk mobil yang dilengkapi dengan H-bake line system, hanya untuk mengontrol tekanan roda belakang. Pada rear diffirential dipasang satu wheel speed sensor yang berfungsi untuk mendeteksi kecepan roda. Cara kerjanya adalah saat dilaukan pengeraman mendadak roda depan akan terkunci, sehingga kestabilan kemudi mobil akan hilang dan jarak henti pada permukaan jalan yang mempunyai daya gesek rendah (low) juga akan bertambah jauh. Sistem ini hanya akan membantu untuk penghentian lurus.











BAB III
PEMBAHASAN

Analisa Kerusakan Pada Sistem ABS
A.    Kerusakan pada sistem ABS ini dimodelkan dengan menggunakan Software Matlab/Simulink.
1.      Kerugian Efisiensi Pompa
Jarak pemberhentian untuk kerugian efisiensi pompa 90%, 70% dan 50% tidak mengalami perubahan yang signifikan yaitu 50 – 50.1 m. Kerugian efisiensi pompa 70% dan 50% menyebabkan roda cepat mengalami penguncian hingga terjadi slip selama 1.3 detik. Efisiensi pompa diatas 70% pompa masih layak pakai, dibawah 70% pompa tidak layak pakai.
2.      Kebocoran Fluida
Jarak pemberhentian untuk kebocoran 1% hampir sama dengan kondisi normal yaitu 50 m dengan waktu pemberhentian 6.7 detik dan kebocoran 10% sekitar 60 m dengan waktu 7.8 detik. Kebocoran diatas 10% menyebabkan loose brake dikarenakan slip rate dibawah 0.1 dan seal piston harus diganti.
3.      Gelembung Udara Dalam Minyak Rem
Slip rate untuk efisiensi brake pad 90% dan 70% tidak mengalami perubahan masih pada 0.2 dan efisiensi 40% terjadi loose brake karena slip dibawah 0.1. Jarak pemberhentian untuk efisiensi brake pad 90% sama dengan kondisi normal yaitu 50 m, efisiensi 70% sekitar 58 m dengan waktu pemberhentian 7.4 detik, efisiensi 40% sekitar 73 m dengan waktu pemberhentian 9 detik. Efisiensi diatas 70% pad layak pakai dan untuk efisiensi dibawah 70% pad segera diganti.
4.      Kerugian Efisiensi Brake Pad
Bulk modulus 1.1 x 109 Pa untuk memberikan gangguan adanya udara dalam oli rem. Jarak pemberhentiaannya adalah 53 m dengan waktu pemberhentian 6.9 detik, jumlah puncak slip lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.


B.     Keamanan Sistem ABS
Saat Ignition switch diputar ke ON, ABSCM akan melakukan self-test sampai kecepatan kendaraan mencapai batas kecepatan normal dan juga memonitor sistem saat mobil melaju. Jika terdeteksi ada kerusakan, pertama yang dilakukannya adalah menghentikan fungsi ABS dan menyalakan lampu peringatan ABS. Meskipun ABS tidak dapat bekerja, namun rem konvensional mesih tetap bekerja. setelah tidak terdeteksi lagi adanya kerusakan pada sistem, maka lampu peringatan akan mati dan sistem kembali berjalan normal.
1.      Initial Self-Testing setelah IG ON (mobil berhenti)
Ketika kunci kontak diputar ke ON maka arus akan mengalir ke ABSCM, dan melakukan prosedur kerja sebagai berikut .
a)      Mengecek fungsi microprocessor
Ø  Membuat Watchdog Error dan memeriksa jika ada kesalahan
Ø  Memeriksa data ROM
Ø  Memeriksa data RAM apakah penulisan dan membacaan data normal
Ø  Memeriksa kerja converter A/D (Analog /Digital)
Ø  Memeriksa komunikasi diantara dua microprocessor
b)      Memeriksa fungsi valve relay
Ø  Mengaktifkan valve relay dan memeriksa kerjanya
c)      Memeriksa fungsi fail memori
Ø  Memeriksa fail memory circuit microprocessor
2.      Initial Self-Testing saat mobil mulai berkegak
Ketika mobil mulai bergerak, ABSCM akan melakukan tes fungsi actuator sebagai berikut :
a)      Tes fungsi solenoid valve
Ø  Memeriksa fungsi solenoid valve dan memonitor kerjanya
b)      Tes fungsi motor
Ø  Menjalankan motor dan memeriksa kondisinya. Tergantung dari si pembuat ABS, waktu selftesting pada motor dapat berbeda, namun kebanyakan self-testing dilakukan saat mobil mulai berjalan atau pada akhir ABS bekerja.
c)      Memeriksa sinyal wheel speed sensor
Ø  Memeriksa semua sinyal wheel speed sensor
3.      Tes sistem saat mobil melaju
Setelah proses inisial self-test selesai, sistem ABS diperiksa oleh dua microprocessor dan sirkuit lain disekitarnya. Jika ada kesalahan, microprocessor akan mengkonfirmasikannya dan kode kesalahan tersebut akan disimpan di dalam ABSCM.
a)      Tes tegangan (12V, 5V)
Ø  Periksa apakah suplai tengannya 12volt dan tegangan di dalam ABSCM adalah 5 volt. Namun perlu diperhatikan suatu saat tegangan bisa turun dikarenakan beroperasinya ABS atau motor saat sedang memonitor tegangan.
b)      Tes kerja valve relay
Ø  Saat ABS bekerja, valve relay diaktifkan. ABSCM menjaga kerja valve relay.
c)      Perhitungan menghasilkan perbandingan antara dua microprocessor
Ø  Biasanya ada dua microprocessor di dalam ABSCM dan melakukan fungsi kerja dalam waktu yang sama. Keduanya saling membandingkan hasil satu sama lainnya dan mengenali kesamaan diantara keduanya. Konsep perbandingan ini bisa menjamin bahwa system berjalan sebagaimana mestinya dan dapat mendeteksi secara dini adanya kerusakan.
d)     Tes kerja microprocessor
Ø  Memonitor
e)      Memeriksa data ROM
Ø  Melakukan pemeriksaan jumlah data ROM dan memastikan bahwa program  berjalan dengan normal.
4.      Menampilkan Self Diagnosis
Apabila ada kesalahan yang dideteksi oleh safety circuit, fungsi ABS akan berhenti dan lampu peringatan ABS menyala. ABSCM akan menampilkan kode kerusakan melalui alat Scan. Alat scan dapat mengaktifkan solenoid valves dan motor.


BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian diatas, system rem ABS adalah system yang sangat mendukung bagi keselamatan dan kenyamanan pengendara mobil. System ABS juga telah banyak digunakan di mobil-mobil yang digunakan di Indonesia sehingga sudah banyak bengkel-bengkel mobil yang menyediakan perbaikan system rem ABS. Telah banyak dijelaskan bagaimana cara perbaikan dan perawatan untuk sistem rem ABS, System Rem abs ini dalam electriknya tidak membutuhkan begitu banyak perawatan karena kerja dari system ABS telah diatur oleh ABS Computer (ABSCM) yang menerima sinyal dari Speed Sensor.
B.     Saran
System rem ABS yang kerjanya didukung oleh system hidrolik, sehingga pada system ini fluida yidak boleh kurang atau habis dan harus tidak ada udara yang msuk kedalam saluran fluida karena akan mengganggu kinerja pada system










DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Step 2 Chasis ABS. Jakarta : Hyundai.
Kristio, Mardhoko. 2012. “Simulasi ABS (Anti lock Braking System)”, (Online), (http//Kristio-m-fst08.web.unair.ac.id/artikel­_detail-35378-umum-simulasi ABS (Anti lock Braking System).html, (diakses 30 April 2012).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar