Selasa, 07 Mei 2013

resume kreativitas



PENGEMBANGAN PESERTA DIDIK
“Kreativitas”



 






Oleh:
RIDONA SILABAN
16573 / 2010






UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013
A.  Pengertian Kreativitas
Barron (1982) mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Guilford (1970) menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai cirri-ciri seorang kreatif. Utami Munandar (1992:47) mendefinisikan kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi sesuatu gagasan. Rogers mendefinisikan kreativitas sebagai proses munculnya hasil-hasil baru kedalam suatu tindakan (Utami Munandar, 1992:47). Drevdahl mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk memproduksi komposisi dan gagasan-gagasan baru yang dapat berwujud aktivitas imajinatif atau sentesis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi sekarang (Hurlock,1978).
 Berdasarkan berbagai definisi kreativitas di atas, maka definisi-definisi kreativitas dapat dikelompokan ke dalam empat kategori yaitu :
1. Product
2. Person
3. Process
4. Press
Jadi, yang dimaksud dengan kreativitas adalah cirri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang menandai adanya kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau kombinasi dari karya-karya yang telah ada sebelumnya menjadi suatu karya baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk menghadapi permasalahan dan mencari alternative pemecahannya dengan cara-cara berpikir divergen.

B.  Ciri Orang /remaja Kreatif
1.    Berpikir Lancar
Anak kreatif mampu memberikan banyak jawaban terhadap suatu pertanyaan yang kita berikan. Dalam kejadian sehari-hari, kita sering bertanya “apa”, maka sering pula dijawab dengan banyak jawaban, meskipun kadang-kadang jawabannya agak melenceng. Namun, itulah salah satu kehebatan anak kreatif. Dalam jangka panjang, anak kreatif mampu memberikan banyak solusi atas masalah yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena di masa depannya hidup akan penuh masalah dan tantangan. Dengan kreativitasnya, maka ia akan lebih mudah menjawab masalah dan tantangan tersebut.


2.    Fleksibel dalam Berpikir
Anak kreatif mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang (fleksibel), sehingga ia mampu memberikan jawaban variatif. Hal ini akan memudahkannya menjalani kehidupan dan menyesuaikan diri dalam berbagai keadaan. Seringkali tanpa kita sadari, anak memberikan jawaban atau komentar yang solutif atas pertanyaan dan pernyataan kita.
3.    Orisinil (Asli) dalam Berpikir
Anak kreatif mampu memberikan jawaban-jawaban yang jarang diberikan anak lain. Jawaban-jawaban baru yang tidak lazim diungkapkan anak-anak atau kadang tak terpikirkan orang lain, di luar perkiraan dan khas.
4.    Elaborasi
Anak kreatif mampu memberikan banyak gagasan dengan menggabungkan beberapa ide atas jawaban yang dikemukakan, sehingga ia mampu untuk mengembangkan, memperkaya jawabannya secara rinci dan detail hingga hal-hal kecil.
5.    Imaginatif
Anak kreatif memiliki daya khayal atau imajinasi, yang ia aplikasikan dalam kegiatannya sehari-hari. Ia menyukai imajinasi dan sering bermain peran imajinasi. Misalnya, ia membayangkan dirinya sebagai Ibu, maka ia akan berperan sebagai ibu dalam segi bicara dan perilakunya. Dalam tataran anak remaja, imajinasi ini biasanya berupa fiksi ilmiah, yakni sudah cukup mampu mengembangkan imajinasinya dalam bentuk-bentuk keilmuan, seperti menulis cerpen atau naskah drama, menciptakan lirik lagu, bermusik dengan genre tertentu, dan lain-lain.
6.    Senang Menjajaki Lingkungannya
Anak kreatif senang dengan bermain. Bermain dan permainannya itu selain menyenangkannya juga membuatnya banyak belajar. Ia bisa mengumpulkan dan meneliti makhluk hidup, serta benda mati yang ada di lingkungannya. Hal ini tentu saja bermanfaat untuk masa depannya karena ia akan selalu belajar dan mengasah rasa ingin tahunya terhadap sesuatu secara mendalam. Ciri ini juga terkait dengan kecerdasan anak secara naturalis. Msalnya, karena ia senang meneliti makhluk hidup, maka ia senang memelihara binatang atau tanaman yang disukainya dan memberinya nama.
7.    Senang Menjajaki Lingkungannya
Anak kreatif senang dengan bermain. Bermain dan permainannya itu selain menyenangkannya juga membuatnya banyak belajar. Ia bisa mengumpulkan dan meneliti makhluk hidup, serta benda mati yang ada di lingkungannya. Hal ini tentu saja bermanfaat untuk masa depannya karena ia akan selalu belajar dan mengasah rasa ingin tahunya terhadap sesuatu secara mendalam. Ciri ini juga terkait dengan kecerdasan anak secara naturalis. Msalnya, karena ia senang meneliti makhluk hidup, maka ia senang memelihara binatang atau tanaman yang disukainya dan memberinya nama.
8.    Suka Menerima Rangsangan Baru
Anak kreatif sangat suka mendapatkan stimulus atau rangsangan baru, serta terbuka terhadap pengalaman baru. Hal ini berkaitan dengan rasa ingin tahunya dan kesukaannya bereksperimen. Semakin banyak stimulus yang kita berikan, maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapatkannya dan semakin banyak pula percobaan yang dilakukannya, sehingga proses dan kemampuan berpikirnya akan terus berkembang dan mengasah kecerdasan otaknya.
9.    Berminat Melakukan Banyak Hal
Anak kreatif memiliki minat yang besar terhadap banyak hal. Ia suka melakukan hal-hal yang baru, berani mencoba hal baru dan tidak takut terhadap tantangan. Dengan mengetahui antusiasme dari minatnya terhadap sesuatu akan membantu orang tua mengenali bakat anak, sehingga sejak dini bisa mengembangkan minat dan bakatnya secara berdampingan dan berkesinambungan. Selain itu, keberanian melakukan hal-hal baru dapat memupuk rasa percaya dirinya yang bermanfaat untuk perkembangan kepribadiannya kelak.
10.     Tidak Mudah Merasa Bosan
Anak kreatif tidak mudah bosan melakukan sesuatu. Ia akan melakukannya sampai ia merasa benar-benar puas. Jika sudah puas, maka ia akan melakukan sesuatu yang lain lagi. Inilah ciri kreativitasnya yang menonjol. Ketidakbosanan merupakan aset berharga yang akan membuatnya terus mencari hal-hal yang dapat menginspirasinya untuk berkreasi dan berinovasi dengan hal-hal yang dialaminya dan dilihatnya, sehingga proses kereatifnya terus berjalan seiring pertumbuhan usianya.
C.  faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembangnya Kreativitas
1.    Faktor internal individu
Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam individu yang dapat mempengaruhi kreativitas, diantaranya :
·       Keterbukaan terhadap pengalaman dan rangsangan dari luar atau dalam individu. Keterbukaan terhadap pengalaman adalah kemampuan menerima segala sumber informasi dari pengalaman hidupnya sendiri dengan menerima apa adanya, tanpa ada usaha defense, tanpa kekakuan terhadap pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan demikian individu kreatif adalah individu yang mampu menerima perbedaan
·       Evaluasi internal, yaitu kemampuan individu dalam menilai produk yang dihasilkan ciptaan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang lain. Walaupun demikian individu tidak tertutup dari kemungkinan masukan dan kritikan dari orang lain.
·       Kemampuan untuk bermaian dan mengadakan eksplorasi terhadap unsur-unsur, bentuk-bentuk, konsep atau membentuk kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
2.    Faktor eksternal (Lingkungan)
Faktor eksternal (lingkungan) yang dapat mempengaruhi kreativitas individu adalah lingkungan kebudayaan yang mengandung keamanan dan kebebasan psikologis. Peran kondisi lingkungan mencakup lingkungan dalam arti kata luas yaitu masyarakat dan kebudayaan. Kebudayaan dapat mengembangkan kreativitas jika kebudayaan itu memberi kesempatan adil bagi pengembangan kreativitas potensial yang dimiliki anggota masyarakat. Adanya kebudayaan creativogenic, yaitu kebudayaan yang memupuk dan mengembangkan kreativitas dalam masyarakat, antara lain :
·       Tersedianya sarana kebudayaan, misal ada peralatan, bahan dan media,
·       Adanya keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan bagi semua lapisan masyarakat,
·       Menekankan pada becoming dan tidak hanya being, artinya tidak menekankan pada kepentingan untuk masa sekarang melainkan berorientasi pada masa mendatang,
·       Memberi kebebasan terhadap semua warga negara tanpa diskriminasi, terutama jenis kelamin,
·       Adanya kebebasan setelah pengalamn tekanan dan tindakan keras, artinya setelah kemerdekaan diperoleh dan kebebasan dapat dinikmati,
·       Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda,
·       Adanya toleransi terhadap pandangan yang berbeda,
·       Adanya interaksi antara individu yang berhasil, dan
·       Adanya insentif dan penghargaan bagi hasil karya kreatif.
Selain itu Hurlock (1993), mengatakan ada enam faktor yang menyebabkan munculnya variasi kreativitas yang dimiliki individu, yaitu:
a.    Jenis kelamin. Anak laki-laki menunjukkan kreativitas yang lebih besar dari anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak. Untuk sebagian besar hal ini disebabkan oleh perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki diberi kesempatan untuk mandiri, didesak oleh teman sebaya untuk lebih mengambil resiko dan didorong oleh para orangtua dan guru untuk lebih menunjukkan inisiatif dan orisinalitas.
b.    Status sosioekonomi. Anak dari kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi cenderung lebih kreatif dari anak kelompok yang lebih rendah. Lingkungan anak kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi memberi lebih banyak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan bagi kreativitas.
c.    Urutan kelahiran. Anak dari berbgai urutan kelahiran menunjukkan tingkat kreativitas yang berbeda. Perbedaan ini lebih menekankan pada lingkungan daripada bawaan. Anak yang lahir ditengah, belakang dan anak tunggal mungkin memiliki kreativitas yang tinggi dari pada anak pertama. Umumnya anak yang lahir pertama lebih ditekan untuk menyesuaikan diri dengan harapan orangtua, tekanan ini lebih mendorong anak untuk menjadi anak yang penurut daripada pencipta.
d.   Ukuran keluarga. Anak dari keluarga kecil bilamana kondisi lain sama cenderung lebih kreatif daripada anak dari keluarga besar. Dalam keluarga besar cara mendidik anak yang otoriter dan kondisi sosiekonomi kurang menguntungkan mungkin lebih mempengaruhi dan menghalangi perkembangan kreativitas.
e.    Lingkungan. Anak dari lingkungan kota cenderung lebih kreatif dari anak lingkungan pedesaan.
f.     Intelegensi. Setiap anak yang lebih pandai menunjukkan kreativitas yang lebih besar daripada anak yang kurang pandai. Mereka mempunyai lebih banyak gagasan baru untuk menangani suasana sosial dan mampu merumuskan lebih banyak penyelesaian bagi konflik tersebut.
D.  Usaha-usaha Guru dan Orang Tua Untuk Mengembangkan Kreatifitas Remaja
Sesungguhnya anak-anak kreatif kedudukannya sama saja dengan anak-anak biasa lainnya. Namun, karena potensi kreatifnya itu, mereka sangat memerlukan perhatian khusus di sini bukan berarti mereka harus mendapatkan perlakuan istimewa, melainkan harus mendapatkan bimbingan sesuai dengan potensi kreatifnya agar tidak sia-sia. Kelemahan pendidikan selama ini dalam konteksnya dengan pengembangan potensi kreatif anak, menurut Gowan (1981),adalah kurangnya perhatian terhadap pengembangan fungsi belahan otak kanan.
Oleh karena itu, sistem pendidikan hendaknya memperhatikan kurikulum yang akan diolah menjadi materi yang dapat dikembalikan kepada fungsi-fungsi pengembangan dari kedua belahan otak manusia tersebut. Terlalu menekankan pada fungsi satu belahan otak saja menyebabkan fungsi belahan otak yang lain tidak berkembang secara maksimal.
Sifat relasi bantuan untuk membimbing anak-anak kreatif, menurut Dedi Supriadi (1994), sebenarnya sama saja dengan relasi untuk anak-anak pada umumnya. Hanya saja, idealnya para guru dan pembimbing mengetahui mekanisme proses kreatif dan manifestasi perilaku kreatif. Dalam konteks relasi dengan anak-anak kreatif ini, Torrance (1977) menamakan relasi bantuan itu dengan istilah creative relationship yang memiliki karakteristik sebagai berikut.
1.    Pembimbing berusaha memahami berusaha memahami pikiran dan perasaan anak.
2.     Pembimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya tanpa mengalami hambatan.
3.    Pembimbing lebih menekankan pada proses daripada hasil sehingga Pembimbing di tuntut mampu memandang permasalahan anak sebagai bagian dari keseluruhan dinamika perkembangan dirinya.
4.    Pembimbing berusaha menciptakan lingkungan yang bersahabat, bebas dari ancaman, dan suasana saling menghargai.
5.    Pembimbing tidak memaksakan pendapat, pandangan, atau nilai-nilai tertentu kepada anak.
6.    Pembimbing berusaha mengeksplorasi segi-segi positif yang dimiliki anak dan bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan anak.
7.    Pembimbing berusaha menempatkan aspek berpikir dan perasaan secara seimbang dalam proses bimbingan.
Supriadi (1994) mengemukakan sejumlah bantuan yang dapat digunakan untuk membimbing perkembangan anak-anak kreatif, yaitu :
1.    Menciptakan rasa aman kepada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya;
2.    Mengakui dan menghargai gagasan-gagasan anak;
3.    Menjadi pendorong bagi anak untuk mengomunikasikan dan mewujudkan gagasan-gagasannya;
4.    Membantu anak memahami dalam berpikir dan bersikap, dan bukan malah
menghukumnya;
5.    Memberikan peluang untuk mengomunikasikan gagasan-gagasannya;
6.    Memberikan informasi mengenai peluang-peluang yang tersedia.





REFERENSI
Tim Dosen Pembina PPD.2007.Bahan Ajar PPD.Padang:Pres UNP Padang
Ali, Mohammad dan Asrori, Mohammad. 2008.PSIKOLOGI REMAJA: Perkembangan Peserta Didik.
Jakarta: Bumi Aksara.

Senin, 13 Agustus 2012

Makalah Rangkaian Sistem Rem ABS Toyota Camry Tipe 2.4V A/T

TEKNOLOGI OTOTRONIC
“Diagnosa Kerusakan dan Keamanan Rangkaian Sistem Rem ABS Toyota Camry Tipe 2.4V A/T

 









Oleh:

RIDONA SILABAN
16573 / 2010







PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2012



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Diagnosa Kerusakan dan Keamanan Rangkaian Sistem Rem ABS Toyota Camry Tipe 2.4V A/T” yang merupakan salah satu syarat perkuliahan pada mata kuliah Teknologi Ototronik di Universitas Negeri Padang.
Penulis menyadari betul bahwa isi makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun sebagai penyempurnaan makalah ini, sehingga dikemudian hari makalah ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membaca, seiring dengan itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selesainya makalah ini.




                                                                       
Padang, 5 Mei 2012






Penulis



DAFTAR ISI


Halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................   i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I      PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang.................................................................................    1
B.       Identifikasi Masalah.........................................................................   2 
C.       Pembatasan Masalah........................................................................    2 
D.      Perumusan Masalah..........................................................................    2
E.       Tujuan Penulisan..............................................................................    2
F.        Kegunaan Penulisan.........................................................................    3
BAB II KAJIAN TEORI
Landasan Teori.................................................................................................    4
A.       Pengertian Sistem Rem ABS...........................................................    4
B.       Komponen Utama Sistem ABS.......................................................    6
C.       Gambar Rangkaian dan Blok Diagram Sistem ABS.......................    8
D.       Prinsip Kerja ABS............................................................................    9
E.        Siklus Kontrol ABS......................................................................... 11
F.        Jenis-jenis ABS................................................................................ 14
BAB III PEMBAHASAN
Analisa Kerusakan Pada Sistem ABS............................................................. 17
A.       Kerusakan Pada Sistem ABS........................................................... 17
B.       Keamanan Sistem ABS.................................................................... 18
BAB IV PENUTUP
A.       Kesimpulan...................................................................................... 20
B.       Saran................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 21







PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Perkembangan negara industri dapat maju pesat karena dipengaruhi oleh adanya hasil teknologi yang tinggi dimana komponen-komponen mesin memiliki kualitas yang baik dan memenuhi standar, baik dari segi komponen maupun umur penggunaan yang tahan lama. Mobil adalah satu kesatuan terdiri dari berbagai komponen yang menyatu, disebut dengan kendaraan. Masing-masing adalah mesin, chasis dan pemindah daya, listrik  dan aksesoris. Penemuan alat-alat modern dan otomatis membawa manusia ketingkat kenyamanan yang lebih tinggi. Dan perkembangan teknologi tersebut juga berpengaruh dalam bidang otomotif, sebagai contoh kendaraan model dahulu dalam pengoperasiannya masih menggunakan manual, namun pada kendaraan model sekarang dalam pengoperasiannya sudah banyak yang menggunakan otomatis misalnya: sistem power window, sistem rem Antilock Brake System (ABS) dan juga pada sistem pemindah daya (power train).
Dewasa ini perkembangan  teknologi system keamanan pada mobil berkembang pesat, terutama dalam system pengereman. ABS atau Antilock Brake System merupakan salah satu contoh teknologi terbaru tersebut. Sistem ini betujuan untuk mencegah roda mengalami penguncian. Karena berdasarkan penelitian, roda yang mengalami penguncian pada saat pengereman akan menyebabkan resiko kecelakaan yang lebih besar. Roda yang mengalami penguncian akan menyebabkan mobil tergelincir terutama pada jalan yang basah atau pada jalan bersalju. Oleh karena itu Antilock Braking System merupakan system keamanan yang penting pada mobil, akan sangat berbahaya jika system pengereman ini mengalami kerusakan.
Seiring lamanya pemakaian ABS pada kendaraan tentunya akan mengakibatkan beberapa masalah pada system ABS ini, sehingga makalah ini dibuat untuk mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang timbul pada komponen-komponen ini akan memudahkan dalam memperbaiki sekaligus mempercepat penanganan kasus bila terjadi permasalahan.


B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut dapat diidentifikasi beberapa masalah, yaitu:
a.    Rangkaian system ABS tidak berfungsi dengan baik
b.   Rem ABS terkadang berfungsi terkadang tidak berfungsi
c.    Kerugian effisiensi pompa
d.   Kebocoran fluida
e.    Gelembung udara dalam minyak rem
f.    Kerugian efisiensi brake pad
g.   Kendaraan tidak mengerem saat dilakukan pengereman
C.    Batasan Masalah
Karena banyaknya masalah yang muncul dalam identifikasi masalah diatas maka untuk memfokuskan dan pengkajian secara lebih mendalam, penulis akan membatasi pada poin-poin berikut:
a.    Kerugian effisiensi pompa
b.   Kebocoran fluida
c.    Gelembung udara dalam minyak rem
d.   Kerugian efisiensi brake pad
e.    Kerusakan dan Keamanan Rangkaian
a.    Analisa komponen
b.   SIKLUS KONTROL ABS
c.    Perbaikan system ABS
d.   Perawatan system ABS
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan adalah untuk  menjelaskan empat hal berikut:
a.    Mengetahui komponen-komponen pada sistem ABS
b.   Mengetahui siklus pada saat system ABS bekerja
c.    Untuk mengetahui perbaikan kerusakan system ABS
d.   Untuk mengetahui cara perawatan system ABS
a.    Untuk mengetahui system ABS
b.   Untuk mengetahui Cara kerja system ABS
c.    Untuk mengetahui kontruksi dan rangkaian system ABS
d.   Untuk mengetahui komponen-komponen system ABS
e.    Untuk mengetahui tipe-tipe system ABS
f.    Untuk Mengetahui Persamaan supaya dapat mensimulasikan fungsi dari ABS agar dapat digunakan dan lebih aman.






















KAJIAN TEORI
Landasan Teori

A.    Pengertian Sistem Rem ABS
Sistem rem anti terkunci atau anti-lock braking sistem (ABS) merupakan sistem pengereman pada mobil agar tidak terjadi penguncian roda ketika terjadi pengereman mendadak/keras.ABS merupakan sistem pengereman yang didesain untuk menghindari terjadinya selip (skidding) karena roda terkunci (locked) pada saat pengereman yang mana hal ini akan dapat menimbulkan bahaya karena roda yang selip akan menyebabkan kendaraan tidak dapat dikendalikan. Roda yang selip juga akan dapat memperpanjang jarak pengereman, karena koefisien gesek ban yang selip lebih kecil daripada ban yang menggelinding.
Sistem ini bekerja apabila pada mobil terjadi pengereman keras sehingga salah sebagian atau semua roda berhenti sementara mobil masih melaju, membuat kendaraan tidak terkendali sama sekali. Ketika sensornya mendeteksi ada roda mengunci, ia akan memerintahkan piston rem untuk mengendurkan tekanan, lalu mengeraskannya kembali begitu roda berputar. Proses itu berlangsung sangat cepat, bisa mencapai 15 kali/detik. Efeknya adalah mobil tetap dapat dikendalikan dan jarak pengereman makin efektif.
Jika permukaan jalan saat pengereman tidak rata, roda2 yang mengalami selip akan mudah terkunci dan mobil akan berputar putar . namun dengan sistem ABS mobil akan tetap stabil sampai mobil tersebut berhenti.








Perbandingan pengereman kendaraan yang tidak menggunakan rem ABS dan yang menggunakan rem ABS

Sejarah singkat mengenai ABS
1.      1952 ABS untuk kapal terbang oleh Dunlop
2.      1969 Rear-wheel-only ABS oleh Ford & Kelsey Hayes
3.      1971 Four-wheel ABS oleh Chrysler & Bendix
4.      1978 Produksi massal Bosch ABS Systems dengan Mercedes Benz
5.      1984 Sistem terpadu ABS oleh ITT-Teves
6.      Sejak awal tahun 1990 ABS mulai ditawarkan ke mobil ukuran kecil dan menengah karena biaya sudah murah dan untuk menambah efisiensi

Anti-lock Brake System dirancang untuk mencegah terjadinya penguncian roda (wheel lockup) saat pengeman mendadak di segala medan jalan. Hasil saat pengeraman adalah:
1.      Mobil tetap stabil
2.      Arah kemudi stabil (Vehicle Stability)
3.      Mengerem lebih cepat (jarak pengereman lebih dekat, kecuali jalan tanah, bersalju)
4.      Penguasaan kontrol kendaraan menjadi maksimal (tinggat kestabilan)


B.     Komponen Utama Sistem ABS
Sistem ABS merupakan kombinasi dari sistem elektronik dan hidrolik untuk mengatur pengereman masing-masing roda agar menghindari roda terkunci. Komponen utama ABS secara umum adalah:
1.      Speed sensor
Masing roda, informasi ini diperlukan agar sistem dapat mengetahui roda mana yang sedang akan terkunci. Speed sensor ini dapat terpasang terpasang pada setiap roda, atau ada juga yang dipasang pada diferensial.masing-masing roda agar menghindari roda terkunci.







Speed Sensor
2.      Valve
Terdapat sebuah valve pada open masing-masing rem yang dikontrol oleh ABS, valve ini memiliki tiga posisi:
1)      Valve terbuka (open), tekanan dari master cylinder diteruskan langsung ke rem.
2)      Valve menutup jalur dan mengisolasi rem roda yang bersangkutan sehingga mencegah tekanan terus meningkat pada saat rem ditekan lebih kuat.
3)      Valve melepaskan (release) tekanan pada rem.







3.      Pump
Valve melepaskan tekanan pada rem, oleh karena itu maka harus ada alat yang mengembalikan tekanan pada rem, dan inilah fungsi dari pompa tersebut.

4.      ABS Controller / Computer
ABS terdiri dari wheel speed sensor yang berfungsi untuk mendeteksi kecenderungan suatu roda mengalami penguncian, HCU (Hydraulic Control Unit) mensuplai tekanan rem ke setiap roda berdasarkan output signal dari ABSCM (control module).
Dari sinyal wheel speed sensor, ABSCM akan menghitung dan memperkirakan akselerasi, deselerasi dan slip rasio, pengaturan solenoid valve dan return pump, gunanya adalah adalah untuk mencegah terjadinya wheel lock-up. ABSCM dapat mengatur sistem monitoring pada sirkuit dan mematikan dirinya sendiri apabila sistem mengalami kegagalan. Pengemudi dapat mengetahui adanya kegagalan sistem pada ABS apabila lampu peringatan ABS menyala.

                              




C.    Gambar Rangkaian dan Blok Diagram Sistem ABS













Rangkaian Komponen ABS












Blok Diagram ABS ECU

D.    Prinsip Kerja ABS
  Salah satu algoritma cara kerja dari sistem ABS secara sederhana adalah dengan memonitor speed sensor pada roda sepanjang waktu untuk mencari terjadinya perlambatan (deceleration) yang tidak wajar. Tepat sebelum terkunci, roda akan mengalami perlambatan yang sangat cepat. Apabila dibiarkan, roda akan berhenti jauh lebih cepat dari mobil, misalnya mobil yang bergerak dengan kecepatan 60 mil per jam akan berhenti dalam 5 detik, namun roda yang terkunci akan berhenti berputar dalam waktu kurang dari 1 detik. ABS Controller kemudian membaca perubahan yang “tidak mungkin” ini dan mengurangi tekanan (release) pada rem tersebut sampai kembali terjadi akselerasi dan kemudian meningkatkan tekanan(pumpi ng) lagi sehingga menimbulkan deselerasi lagi. Sistem ABS dapat bekerja dengan sangat cepat dalam melakukan siklus tersebut, sebelum roda mengalami perubahan kecepatan yang signifikan. Hal ini menyebabkan roda melambat dengan perlambatan yang sama dengan mobil, dengan rem menjaga roda sangat dekat dengan titik dimana roda akan mulai terkunci (lock up). Kondisi ini menghasilkan daya pengereman yang maksimum pada sistem, begitu juga hal ini dapat menjaga roda terus berputar sehingga tetap dapat dikendalikan.
Kesimpulannya, prinsip utama dari sistem ABS adalah mengontrol kecepatan putaran roda dengan cara mengontrol tekanan pada jalur sistem pengereman. Dengan demikian dicapai kondisi dimana roda sedang tepat sebelum terkunci, yang mana akan menghasilkan pengereman yang paling efektif.
Ditinjau dari sistem kontrolnya, sistem kontrol traksi merupakan sistem yang mampu mempertahankan ratio slip diantara ban dan permukaan jalan dengan cara mengontrol peralatan-peralatan guna memberikan perlawanan percepatan terhadap perubahan kondisi permukaan jalan. Peralatan itu tersebut, yaitu:
1.      Kontrol Torsi Engine, berfungsi mempertahankan kondisi steady state plant.
2.      Kontrol Torsi Pengereman, mencegah keberadaan torsi dengan memberikan gaya gesek yang berbeda di antara kedua roda penggerak.
Sistem kontrol traksi direncanakan untuk mencegah roda melintir dengan gaya akseleratif yang tinggi, dan pemasarannya telah mulai dilakukan sejak tahun 1987. Kraf (1990), Rittmanssberger (1998), Kiyotaka (1991), menyatakan bahwa antiskid controller mengatur roda slip dengan torsi pengereman, biasanya pada keempat rodanya. W Shields Neeley (1994), menyatakan bahwa peren canaan kontrol slip dengan NeuFuz dapat dilakukan untuk sistem kontrol traksi dan sistem ABS.
Armin Czinczel (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kebutuhan akan sistem kontrol traksi untuk kendaraan FWD merupakan optimisasi traksi. Oleh karena itu sistem torsi pengereman sangat diperlukan. Tatsuhiko Abe (1996) melakukan penelitian sistem kontrol traksi dengan HTCS (Hybrid Traction Control System) yang menawarkan kinerja dalam hal memperbaiki TCS dengan EIB (Engine Inertia Brake).
Komponen-Komponen Kontrol Traksi tersebut meliputi :
1.      Wheel Speed sensor, sensor yang memberikan informasi kepada ABS untuk ditindak lanjuti.
2.      ECU (Electronic Control Unit) Input amplifier IC menerima sinyal dari wheel speed sensor,
3.      sinyal frekwensi tersebut memberi perintah tentang kecepatan roda penggerak. Microcontrollernya akan memproses sinyal-sinyal percepatan dan kecepatan roda penggerak. Datadata ini akhirnya akan menyiapkan basis perhitungan dalam menentukan nilai akhir yang dibutuhkan untuk kendali slip.
4.      Hydraulic Unit
5.      Electronic throttle control actuator
6.      Simplified throttle control actuator
7.      Fuel injection dan ignition control (Pengurangan tekanan pompa mesin secara perlahan-lahan).


E.     Siklus Kontrol ABS
1.      Pengaturan Rem Pada Permukaan Yang Tidak Rata (Koefisien Gaya Rem)
Saat awal pengeman, tekanan rem di dalam wheel brake cylinder dan masing-masing akan naik turun. Di akhir tahap 1, deselerasi roda melebihi ambang batas (-a), akibatnya solenoid valve akan memindahkan posisi “pressure hold” sesuai dengan kebutuhannya. Tekanan rem tidak harus berkurang karena ambang batas (-a) dapat dilebihkan ke dalam range stabil dari koefisiennya, atau dari kurva brake slip. Pada saat bersamaan kecepan referensi dikurangi, besaran untuk slip switching ambang batas •1 di dapat dari kecepatan referensi.
Kecepatan roda turun dibawah ambang batas •1 di akhir tahap 2. Kemudian solenoid valve pindah ke posisi “pressure drop” , sehingga tekanan rem bisa dikurangi sampai deselerasi roda melebihi ambang batas (-a). Kecepatan turun lagi dibawah ambang batas (-a) di akhir tahap 3 dan tekanan bertahan mengikuti panjangnya. Pada saat tersebut akselerasi roda bertambah mengikuti bertambahnya ambang batas (+a). Tekanan tetap konstan. Dan diakhir tahap 4, akselerasi melebihi kecepatan ambang batas (+A) tertinggi, tekanan rem kemudian bertambah mengikuti naiknya ambang batas (+A).
Di tahap 6, tekanan ren dipertahankan kembali agar tetap konstan karena ambang batas (+a) dilebihkan. Di akhir tahap ini, akselerasi sekeliling roda turun dibawah ambang batas (+a). ini menandakan bahwa roda sudah memasuki batasan gaya rem yang stabil (coefficient/brake slip curve) dan agak ringan. Tekanan rem sekarang mulai masuk tahapan 7 sampai deselerasi roda melebihi ambang batas (- a) (akhir tahap 7). Pada saat tersebut, tekanan rem langsung diturunkan tanpa melalui sinyal 1.
2.      Kontrol Rem di Jalan Licin (Koefisien Gaya Rem Rendah)
Pada permukaan jalan licin seperti ini, dengan sedikit injakan saja pada brake pedal, bisa cukup untuk membuat roda terkunci sehingga memungkinkan terjadi selip pada ban. Logic circuit di dalam ECU dapat mengenali kondisi aspal suatu jalan kemudian menyesuaikannya karakter ABS.
Pada tahap 1 dan 2, pengaturan rem dilakukan dengan cara yang sama berdasarkan koefisien gaya pengereman tinggi. Tahap 3 dimulai dengan penahanan tekanan dalam waktu singkat, kemudian kecepatan roda diperbandingkan dengan slip switching ambang batas •1. Selama kecepan roda kurang dari angka ambang batas slip switching, tekanan rem akan diturunkan sebentar, dalam waktu yang tetap, dan ini diikuti oleh tahap selanjutnya yaitu penahanan tekanan singkat. Kemudian dibuat pembaharuan perbandingan antara kecepatan roda dan switching ambang batas •1, sehingga tekanan bisa turun dalam waktu singkat.
Roda kemudian berputar kembali mengikuti tahapan tekanannya dan roda-roda tersebut berputar melebihi ambang batas (+a). selanjutnya, tekanan tertahan sampai akselerasinya dibawah ambang batas (+a) lagi (akhir tahap 4). Ini di ikuti oleh tahap 5 melalui step-type yang terbentuk di dalam tekanan yang sudah dikenalnya dari bagian sebelumnya sampai siklus kontrol baru bias dikenali oleh pressure reduction tahap 6.
Pada siklus yang telah dijelaskan sebelumnya, controller logic dapat mengenali kedua tahapan penurunan tekanan sebelumnya dimana diperlukan untuk akselerasi roda kembali setelah penurunan tekanan yang dikenali oleh sinyal (-a). Roda berputar dengan batasan selip tinggi untuk waktu yang relatif lama, sehingga tidak aman untuk kestabilan mobil dan penguasaan kemudi. Untuk mengatasi kedua masalah ini, diperlukan perbandingan secara terus-menerus antara kecepatan roda dan slip switching ambang batas •1 ini dan juga siklus control berikutnya. Sebagai akibatnya, di tahan 6 tekanan rem secara tetap akan dikurangi sampai akselerasi roda melebihi ambang batas (+a) tahap 7. Berkat penurunanan tekanan secara tetap, roda berputar dengan selip tinggi dalam waktu singkat, sehingga bisa meningkatkan kestabilan kendaraan dan kontrol kemudi dibanding dengan siklus pertama.

F.     Jenis-jenis ABS

1.      4-SENSOR 4-CHANNEL
Jenis ABAS ini mempunyai empat wheel sensor dan 4 hydraulic control channel dan masingmasing mengontrol secara tersendiri. Sistem ini mempunyai tingkat keamanan dan jarak pemberhentian yang lebih pendek di berbagai macam kondisi jalan. Namun apabila permukaan jalannya licin, besar gaya rem antara kanan dan kiri yang tidak rata akan mengakibatkan terjadi gerakan Yawing pada bodi kendaraan sehingga bisa mengurangi kestabilan. Karena itulah, kebanyakan mobil yang dilengkapi dengan tipe 4 channel ABS memasukkan satu select low logic pada roda belakang agar mobil tetap stabil, di berbagai macam kondisi jalan.












2.      4-SENSOR 3-CHANNEL
Dipakai untuk mobil FF (Front engine Front driving), kebanyakan berat kendaraan terpusat di roda depan dan berat titik tengah kendaraan saat direm juga berpindah ke depan hampir 70%, gaya pengereman ini dikontol oleh roda depan. Artinya adalah kebanyakan tenaga pengereman dibangkitkan oleh roda depan, sehingga agar ABS bisa efektif, maka diperlukan pengaturan tersendiri (independent control) pada roda depan. Namun demikian, roda belakang yang gaya pengeremannya lebih sedikit, juga sangat penting untuk memastikan kendaraan aman saat dilakukan pengereman.
Karena itulah apabila saat ABS roda belakang bekerja di permukaan jalan yang licin, maka independent control pada roda belakang mengatur agar gaya pengereman roda2 belakang tidak merata sehingga mobil mengalami yawing. Untuk menhindari gerakan yawing ini dan untuk menjaga agar mobil tetap aman saat ABS bekerja di berbagai kondisi jalan, maka tekanan rem roda belakang diatur berdasarkan kecenderungan roda mana yang mengalami lock-up. Konsep pengaturan ini dikenal dengan ‘Select-low control’.

3.      3-SENSOR 3-CHANNEL
Mobil yang dilengkapi dengan H-bake line system mempunyai sistem kontrol ABS jenis ini. 2 channel untuk roda depan dan satunya lagi untuk roda belakang. Roda belakang dikontrol bersama dengan select low control logic. Untuk X-brake line system, diperlukan 2 channels (2 brake port di dalam unit ABS) untuk mengatur roda belakang dikarenakan masing-masing roda belakang mempunyai jalur rem yang berbeda.







4.      1-SENSOR 1-CHANNEL
Dipakai Untuk mobil yang dilengkapi dengan H-bake line system, hanya untuk mengontrol tekanan roda belakang. Pada rear diffirential dipasang satu wheel speed sensor yang berfungsi untuk mendeteksi kecepan roda. Cara kerjanya adalah saat dilaukan pengeraman mendadak roda depan akan terkunci, sehingga kestabilan kemudi mobil akan hilang dan jarak henti pada permukaan jalan yang mempunyai daya gesek rendah (low) juga akan bertambah jauh. Sistem ini hanya akan membantu untuk penghentian lurus.











BAB III
PEMBAHASAN

Analisa Kerusakan Pada Sistem ABS
A.    Kerusakan pada sistem ABS ini dimodelkan dengan menggunakan Software Matlab/Simulink.
1.      Kerugian Efisiensi Pompa
Jarak pemberhentian untuk kerugian efisiensi pompa 90%, 70% dan 50% tidak mengalami perubahan yang signifikan yaitu 50 – 50.1 m. Kerugian efisiensi pompa 70% dan 50% menyebabkan roda cepat mengalami penguncian hingga terjadi slip selama 1.3 detik. Efisiensi pompa diatas 70% pompa masih layak pakai, dibawah 70% pompa tidak layak pakai.
2.      Kebocoran Fluida
Jarak pemberhentian untuk kebocoran 1% hampir sama dengan kondisi normal yaitu 50 m dengan waktu pemberhentian 6.7 detik dan kebocoran 10% sekitar 60 m dengan waktu 7.8 detik. Kebocoran diatas 10% menyebabkan loose brake dikarenakan slip rate dibawah 0.1 dan seal piston harus diganti.
3.      Gelembung Udara Dalam Minyak Rem
Slip rate untuk efisiensi brake pad 90% dan 70% tidak mengalami perubahan masih pada 0.2 dan efisiensi 40% terjadi loose brake karena slip dibawah 0.1. Jarak pemberhentian untuk efisiensi brake pad 90% sama dengan kondisi normal yaitu 50 m, efisiensi 70% sekitar 58 m dengan waktu pemberhentian 7.4 detik, efisiensi 40% sekitar 73 m dengan waktu pemberhentian 9 detik. Efisiensi diatas 70% pad layak pakai dan untuk efisiensi dibawah 70% pad segera diganti.
4.      Kerugian Efisiensi Brake Pad
Bulk modulus 1.1 x 109 Pa untuk memberikan gangguan adanya udara dalam oli rem. Jarak pemberhentiaannya adalah 53 m dengan waktu pemberhentian 6.9 detik, jumlah puncak slip lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.


B.     Keamanan Sistem ABS
Saat Ignition switch diputar ke ON, ABSCM akan melakukan self-test sampai kecepatan kendaraan mencapai batas kecepatan normal dan juga memonitor sistem saat mobil melaju. Jika terdeteksi ada kerusakan, pertama yang dilakukannya adalah menghentikan fungsi ABS dan menyalakan lampu peringatan ABS. Meskipun ABS tidak dapat bekerja, namun rem konvensional mesih tetap bekerja. setelah tidak terdeteksi lagi adanya kerusakan pada sistem, maka lampu peringatan akan mati dan sistem kembali berjalan normal.
1.      Initial Self-Testing setelah IG ON (mobil berhenti)
Ketika kunci kontak diputar ke ON maka arus akan mengalir ke ABSCM, dan melakukan prosedur kerja sebagai berikut .
a)      Mengecek fungsi microprocessor
Ø  Membuat Watchdog Error dan memeriksa jika ada kesalahan
Ø  Memeriksa data ROM
Ø  Memeriksa data RAM apakah penulisan dan membacaan data normal
Ø  Memeriksa kerja converter A/D (Analog /Digital)
Ø  Memeriksa komunikasi diantara dua microprocessor
b)      Memeriksa fungsi valve relay
Ø  Mengaktifkan valve relay dan memeriksa kerjanya
c)      Memeriksa fungsi fail memori
Ø  Memeriksa fail memory circuit microprocessor
2.      Initial Self-Testing saat mobil mulai berkegak
Ketika mobil mulai bergerak, ABSCM akan melakukan tes fungsi actuator sebagai berikut :
a)      Tes fungsi solenoid valve
Ø  Memeriksa fungsi solenoid valve dan memonitor kerjanya
b)      Tes fungsi motor
Ø  Menjalankan motor dan memeriksa kondisinya. Tergantung dari si pembuat ABS, waktu selftesting pada motor dapat berbeda, namun kebanyakan self-testing dilakukan saat mobil mulai berjalan atau pada akhir ABS bekerja.
c)      Memeriksa sinyal wheel speed sensor
Ø  Memeriksa semua sinyal wheel speed sensor
3.      Tes sistem saat mobil melaju
Setelah proses inisial self-test selesai, sistem ABS diperiksa oleh dua microprocessor dan sirkuit lain disekitarnya. Jika ada kesalahan, microprocessor akan mengkonfirmasikannya dan kode kesalahan tersebut akan disimpan di dalam ABSCM.
a)      Tes tegangan (12V, 5V)
Ø  Periksa apakah suplai tengannya 12volt dan tegangan di dalam ABSCM adalah 5 volt. Namun perlu diperhatikan suatu saat tegangan bisa turun dikarenakan beroperasinya ABS atau motor saat sedang memonitor tegangan.
b)      Tes kerja valve relay
Ø  Saat ABS bekerja, valve relay diaktifkan. ABSCM menjaga kerja valve relay.
c)      Perhitungan menghasilkan perbandingan antara dua microprocessor
Ø  Biasanya ada dua microprocessor di dalam ABSCM dan melakukan fungsi kerja dalam waktu yang sama. Keduanya saling membandingkan hasil satu sama lainnya dan mengenali kesamaan diantara keduanya. Konsep perbandingan ini bisa menjamin bahwa system berjalan sebagaimana mestinya dan dapat mendeteksi secara dini adanya kerusakan.
d)     Tes kerja microprocessor
Ø  Memonitor
e)      Memeriksa data ROM
Ø  Melakukan pemeriksaan jumlah data ROM dan memastikan bahwa program  berjalan dengan normal.
4.      Menampilkan Self Diagnosis
Apabila ada kesalahan yang dideteksi oleh safety circuit, fungsi ABS akan berhenti dan lampu peringatan ABS menyala. ABSCM akan menampilkan kode kerusakan melalui alat Scan. Alat scan dapat mengaktifkan solenoid valves dan motor.


BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian diatas, system rem ABS adalah system yang sangat mendukung bagi keselamatan dan kenyamanan pengendara mobil. System ABS juga telah banyak digunakan di mobil-mobil yang digunakan di Indonesia sehingga sudah banyak bengkel-bengkel mobil yang menyediakan perbaikan system rem ABS. Telah banyak dijelaskan bagaimana cara perbaikan dan perawatan untuk sistem rem ABS, System Rem abs ini dalam electriknya tidak membutuhkan begitu banyak perawatan karena kerja dari system ABS telah diatur oleh ABS Computer (ABSCM) yang menerima sinyal dari Speed Sensor.
B.     Saran
System rem ABS yang kerjanya didukung oleh system hidrolik, sehingga pada system ini fluida yidak boleh kurang atau habis dan harus tidak ada udara yang msuk kedalam saluran fluida karena akan mengganggu kinerja pada system










DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Step 2 Chasis ABS. Jakarta : Hyundai.
Kristio, Mardhoko. 2012. “Simulasi ABS (Anti lock Braking System)”, (Online), (http//Kristio-m-fst08.web.unair.ac.id/artikel­_detail-35378-umum-simulasi ABS (Anti lock Braking System).html, (diakses 30 April 2012).